Jelang Ramadhan, Ibu-Ibu Candirejo Panen Mawar Dan Rezeki Melimpah!

Menjelang Ramadhan, ibu-ibu Desa Candirejo di lereng Gunung Wilis memanen mawar yang menjadi sumber penghasilan musiman.

Jelang Ramadhan, Ibu-ibu Candirejo Panen Mawar

Udara pagi di lereng Gunung Wilis selalu terasa sejuk dan lembut. Di Desa Candirejo, kabut tipis menyelimuti hamparan kebun mawar yang sedang mekar. Aroma khas bunga yang segar menyeruak di antara langkah-langkah para ibu yang sejak subuh sudah sibuk memetik kuntum demi kuntum berwarna merah muda dan putih.

Berikut ini DUNIA IBU IBU CANGGIH INDONESIA akan memberikan informasi menarik lainnya tentang ibu-ibu.

tebak skor hadiah pulsa  

Tradisi Mawar Menjelang Ramadhan

Setiap menjelang Ramadhan, permintaan mawar di berbagai pasar tradisional meningkat signifikan. Bunga ini identik dengan tradisi nyekar atau ziarah kubur yang biasa dilakukan masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.

Di Candirejo, momentum ini dimanfaatkan secara maksimal. Para ibu biasanya mulai mempersiapkan kebun sejak dua hingga tiga bulan sebelumnya. Pemupukan rutin, penyiraman teratur, hingga pemangkasan dilakukan agar bunga mekar tepat waktu.

“Kalau musim biasa, panen tidak terlalu ramai. Tapi kalau mau Ramadhan, pesanan bisa dua kali lipat,” ujar salah satu petani mawar setempat. Dalam sehari, mereka bisa memetik puluhan hingga ratusan kuntum, tergantung luas lahan yang dimiliki.

Peran Ibu-Ibu Dalam Rantai Ekonomi Desa

Menariknya, sebagian besar pengelola kebun mawar di Candirejo adalah kaum perempuan. Para ibu mengambil peran penting, mulai dari perawatan tanaman hingga proses sortir dan pengemasan sebelum dijual ke pengepul.

Setelah dipetik, mawar dikumpulkan di balai kecil desa untuk disortir. Bunga yang masih segar dan utuh dipisahkan dari yang kelopaknya rusak. Proses ini membutuhkan ketelitian karena kualitas sangat menentukan harga jual.

Keterlibatan perempuan dalam sektor ini bukan sekadar membantu suami, melainkan menjadi penggerak utama ekonomi musiman desa. Penghasilan dari mawar sering kali digunakan untuk kebutuhan sekolah anak, belanja kebutuhan pokok, hingga persiapan menyambut Ramadhan.

Baca Juga: Tak Disangka! Ibu Rumah Tangga di Bima Ternyata Bandar Sabu

Tantangan di Lereng Wilis

Jelang Ramadhan, Ibu-ibu Candirejo Panen Mawar

Bertani di lereng Gunung Wilis tentu bukan tanpa tantangan. Curah hujan yang tinggi bisa merusak bunga, sementara musim kemarau panjang membuat tanaman membutuhkan perawatan ekstra.

Selain faktor cuaca, fluktuasi harga juga menjadi perhatian. Saat pasokan melimpah dari daerah lain, harga mawar bisa turun drastis. Namun menjelang Ramadhan, harga cenderung stabil bahkan naik karena tingginya permintaan.

Meski demikian, semangat ibu-ibu Candirejo tidak surut. Mereka saling membantu, berbagi pupuk, bahkan bertukar informasi tentang teknik perawatan agar bunga tetap berkualitas. Gotong royong menjadi kunci bertahannya usaha kecil ini.

Panen Yang Dinanti

Musim panen menjelang Ramadhan selalu menghadirkan suasana berbeda. Sejak pagi, suara tawa dan obrolan ringan terdengar di antara barisan tanaman mawar. Anak-anak kadang ikut membantu mengumpulkan bunga, menciptakan momen kebersamaan keluarga.

Dalam satu musim, hasil penjualan mawar bisa meningkat hingga 30–50 persen dibanding bulan biasa. Bagi sebagian keluarga, tambahan penghasilan ini sangat berarti untuk menutup kebutuhan selama bulan puasa.

Lebih dari sekadar angka, panen ini membawa rasa syukur. Bagi ibu-ibu Candirejo, melihat bunga mekar sempurna sama artinya dengan melihat harapan yang tumbuh dari tanah sendiri.

Harapan dan Keberlanjutan

Ke depan, warga berharap kebun mawar di Candirejo bisa dikembangkan menjadi potensi agrowisata. Hamparan bunga di lereng Wilis sebenarnya memiliki daya tarik visual yang kuat, terutama saat musim mekar.

Beberapa tokoh desa mulai menggagas pelatihan pengolahan produk turunan, seperti air mawar atau minyak esensial, agar nilai tambah meningkat. Dengan begitu, ketergantungan pada momen musiman bisa dikurangi.

Ramadhan memang datang setahun sekali, tetapi semangat kerja keras ibu-ibu Candirejo berlangsung sepanjang tahun. Wangi mawar dari lereng Wilis bukan hanya harum bunga, melainkan juga simbol ketekunan, kebersamaan, dan doa yang dipanjatkan di setiap musim panen.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari KOMPAS.com
  • Gambar Kedua dari KOMPAS.com

Similar Posts