Ibu-Ibu Menjerit, Harga Kelapa Meroket Hingga Rp 30.000!
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H, sebuah fenomena mengejutkan melanda pasar tradisional, yang dimana harga kelapa meroket hingga Rp 30.000!
Para ibu rumah tangga pun dibuat kaget bukan kepalang, mempertanyakan penyebab kenaikan harga yang signifikan ini. Apakah ini pertanda opor Lebaran tahun ini akan menjadi hidangan mewah yang tak terjangkau?
Dibawah ini DUNIA IBU IBU CANGGIH INDONESIA akan membahas masalah atas meroket nya harga kelapa yang membuat Ibu-Ibu menjerit.
Jeritan Emak-Emak di Pasar
Kisah pilu ini bermula dari keluhan Rivi (29), seorang ibu rumah tangga asal Sentul, yang terkejut saat mendapati harga kelapa di pasar dekat rumahnya melonjak drastis. “Masa Rp 30.000 dah satu kelapa sekarang” ujarnya dengan nada tak percaya.
Hal serupa juga dialami oleh Yuni (50), pelanggan di Pasar Pocong, Bogor, kaget melihat harga kelapa naik hingga Rp 30.000 per butir, bahkan setelah diperas menjadi santan. Di Bintaro, seorang pedagang mengungkapkan harga kelapa sudah mencapai Rp 30.000 – Rp 35.000 per butir.
Kenaikan harga ini membuat banyak pembeli terkejut dan mengeluhkan mahalnya bahan masakan. Ironisnya, pasokan kelapa pun ikut menyusut, dari biasanya 2.000 butir menjadi hanya 700 butir. “Ini bisa jadi opor termahal, Lebaran tahun ini” keluhnya.
Ari (40), seorang pedagang makanan di dekat Pasar Ceger, Tangsel, juga mengamini kenaikan harga ini, dari Rp 15.000 menjadi Rp 20.000 per butir hanya dalam hitungan hari.
Baca Juga: Harga Cabai Di Semarang Tembus Rp 105.000, Ibu-Ibu Komplain
Ekspor Meningkat, Produksi Menyusut?
Lantas, apa yang menyebabkan harga kelapa melambung tinggi menjelang Lebaran ini? Ternyata, ada dua faktor utama yang menjadi biang keladi: peningkatan permintaan ekspor dan penurunan produksi kelapa di dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor kelapa bulat Indonesia capai 71.077 ton pada Januari-Februari 2025, didominasi pengiriman ke China sebesar 68.065 ton. Negara tujuan ekspor lainnya adalah Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat bahwa produksi kelapa pada tahun 2024 mengalami penurunan sebesar 0,5 persen secara tahunan, atau sebanyak 70,55 juta butir, menjadi 14,11 miliar butir. Permintaan ekspor yang tinggi dan produksi yang menurun inilah yang menyebabkan harga kelapa di dalam negeri menjadi tak terkendali.
Ancaman Bagi Industri Lokal
Kondisi ini tentu menjadi ancaman serius bagi industri pengolahan kelapa di dalam negeri. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) bahkan mengkhawatirkan bahwa ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara lain, sementara industri dalam negeri semakin terpuruk.
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merekomendasikan moratorium ekspor kelapa bulat selama 3-6 bulan. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa di dalam negeri dan menstabilkan harga kelapa di pasaran. Namun, apakah moratorium ekspor ini akan menjadi solusi yang efektif?
Mampukah Harga Kelapa Kembali Stabil?
Kementerian Perdagangan menyebut kenaikan harga kelapa terjadi karena tingginya permintaan ekspor dan kebutuhan industri dalam negeri. Sayangnya, harga kelapa tidak tercatat dalam panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas). Selain itu, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia juga tidak memantau harga kelapa.
Hal ini tentu menyulitkan upaya pemerintah untuk memantau dan mengendalikan harga kelapa di pasaran. Pertanyaannya, mampukah pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan harga kelapa dan memastikan bahwa opor Lebaran tetap menjadi hidangan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Simak dan ikuti terus DUNIA IBU IBU CANGGIH INDONESIA agar Anda tidak ketinggalan informasi menarik lainnya yang terupdate setiap hari.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.kompas.com
- Gambar Kedua dari www.rri.co.id